Vol. 21 No. 2 (2025): Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK
Articles
-
Identification of The Alignment between Protected Rice Fields (LSD) and Sustainable Agricultural Land (LP2B) within the Residential Spatial Planning
Johan Irawan Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada Indonesia , Bambang Hari Wibisono Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Gadjah Mada IndonesiaINDONESIA
Alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman di Kabupaten Bantul meningkat akibat tekanan urbanisasi sehingga menimbulkan konflik kebijakan antara Lahan Sawah Dilindungi (LSD), Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), dan Rencana Tata Ruang (RTR). Studi ini menganalisis ketidakselarasan regulasi LSD dan LP2B dengan perencanaan tata ruang perumahan menggunakan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 32 titik potensial konflik antara zona perlindungan pertanian dan peruntukan perumahan, yang diklasifikasikan dalam tujuh tipologi permasalahan. Ketidakselarasan kebijakan ini dapat menyebabkan ketidakpastian hukum, percepatan alih fungsi lahan, dan potensi sengketa tata ruang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan sinkronisasi RTR dengan LP2B dan LSD melalui revisi kebijakan, penguatan pengawasan, serta peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
ENGLISH
The conversion of rice fields into residential areas in Bantul Regency has increased due to urbanization pressure, leading to policy conflicts between Protected Rice Fields (LSD), Sustainable Agricultural Land (LP2B), and the Spatial Plan (RTR). This study analyzes the inconsistencies between LSD and LP2B regulations and residential spatial planning using spatial analysis based on Geographic Information Systems (GIS). The findings indicate 32 potential conflict points between agricultural protection zones and residential allocations, classified into seven problem typologies. These policy misalignment result in legal uncertainty, accelerated land conversion, and potential spatial planning disputes. To address these issues, synchronizing the RTR with LP2B and LSD is necessary through policy revisions, strengthened supervision, and enhanced coordination between central and regional governments.
Pages: 87-102Views: - Downloads: -Analisis Efisiensi Pemasaran Kopi Robusta
Dian Safitri Program Studi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Siswanto Imam Santoso Program Studi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Suryani Nurfadillah Program Studi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro IndonesiaENGLISH
Robusta coffee is a leading commodity in Keling Subdistrict, Jepara Regency. However, farmers' bargaining position in the robusta coffee market is weak due to limited capital and lack of access to market information. This study aimed to analyze the marketing channel patterns, marketing functions, and marketing efficiency of robusta coffee in Keling Subdistrict. The research was conducted in Tempur Village and Damarwulan Village from January to February 2023 using a survey method. The total of 100 farmer respondents were selected through simple random sampling, while marketing institution respondents were determined using the snowball sampling. Data analysis methods included descriptive analysis for examining marketing channels and marketing functions. Quantitative analysis was used for evaluating marketing costs and margins, farmer's share, and Marketing Efficiency (EP). The results identified six robusta coffee marketing channel patterns in Keling Subdistrict. The marketing functions performed by the marketing institutions include exchange functions, physical functions, and facilitating functions. The most efficient marketing channel based on margins (IDR 709) was Channel 4 (farmer – coffee processor). Meanwhile, the most efficient marketing channel based on the farmer's share (97.50%) and Marketing Efficiency (EP) (2.56%) was Channel 6 (farmer – factory).
INDONESIA
Kopi Robusta merupakan komoditas unggulan di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Posisi tawar petani dalam pemasaran kopi robusta lemah karena kurangnya modal dan akses informasi pasar. Penelitian bertujuan menganalisis pola saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, dan efisiensi pemasaran kopi robusta di Kecamatan Keling. Penelitian dilaksanakan di Desa Tempur dan Desa Damarwulan pada bulan Januari sampai Februari 2023 menggunakan metode survei. Metode pengambilan responden petani menggunakan simple random sampling sebanyak 100 responden. Pengambilan sampel lembaga pemasaran menggunakan snowball sampling didapatkan sebanyak 7 responden. Metode analisis data secara deskriptif untuk analisis pola saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran. Data dianalisis secara kuantitatif untuk analisis biaya dan margin pemasaran, analisis farmer’s share, dan analisis Efisiensi Pemasaran (EP). Hasil penelitian didapatkan 6 pola saluran pemasaran kopi robusta di Kecamatan Keling. Fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh lembaga pemasaran adalah fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Saluran pemasaran yang paling efisien berdasarkan nilai margin pemasaran (Rp 709) adalah saluran 4 (petani – pengrajin kopi). Saluran yang paling efisien berdasarkan nilai farmer’s share (97,50%) dan Efisiensi Pemasaran (EP) (2,56%) adalah saluran 6 (petani – pabrik).
Pages: 103-118Views: - Downloads: -Analisis Profitabilitas Usaha Budidaya Ikan Nila Salin (Oreocromis niloticus) di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati
Eko Bejo Wahyono Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Agus Setiadi Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Dian Ayunita Nugraheni Nurmala Dewi Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro IndonesiaENGLISH
The purpose of this study is to analyze the financial feasibility and profitability of the saline tilapia (Oreochromis niloticus) cultivation in Tayu SubRegency, Pati Regency. The research was conducted using a survey method, with data collected through interviews based on questionnaires. The total population of tilapia cultivators in the Tayu SubRegency is 646. A proportional sampling technique was applied across the three villages with the largest saline tilapia production areas (Margomulyo, Dororejo, and Tunggulsari) yielding a total sample size of 100 respondents. Financial feasibility was analyzed using the Revenue-Cost Ratio (R/C ratio) and profitability figures. The results show an R/C ratio value of 1.74. This indicates that for every IDR 1.00 spent, the farmer receives a revenue of IDR 1.74, resulting in a profit of IDR 0.74. Furthermore, the profitability analysis of the saline tilapia cultivation business in Tayu SubRegency yielded a figure of 74.39%. Based on this profitability level, the business is profitable, meaning that for every expense of IDR 1.00, the saline tilapia farmers in Tayu SubRegency, Pati Regency, will obtain a profit of IDR 0.7439.
INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial dan profitabilitas usaha budidaya ikan nila salin di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara berbasis kuesioner. Populasi pembudidaya ikan nila salin adalah 646 orang. Sampel sebanyak 100 responden diperoleh secara proporsional di tiga desa yang memiliki luas lahan produksi ikan nila salin terluas di Kecamatan Tayu, yaitu Desa Margomulyo, Desa Dororejo, dan Desa Tunggulsari. Analisis kelayakan finansial menggunakan R/C Ratio dan angka profitabilitas. Hasil penelitian menunjukkan nilai R/C Ratio sebesar 1,74. Angka ini berarti bahwa untuk setiap pengeluaran biaya sebesar Rp1,00, pembudidaya ikan nila salin akan menerima pendapatan sebesar Rp1,74, sehingga keuntungan yang diperoleh adalah Rp0,74. Selain itu, hasil analisis profitabilitas usaha budidaya ikan nila salin di Kecamatan Tayu adalah 74,39%. Berdasarkan tingkat profitabilitas tersebut, usaha yang dijalankan dinilai menguntungkan, di mana setiap pengeluaran biaya sebesar Rp1,00 akan menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp0,7439 bagi pembudidaya ikan nila salin di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati.
Pages: 119-128Views: - Downloads: -Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Kelapa Kopyor di Kabupaten Pati
Faiq Yusron Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Mukson Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Siswanto Imam Santoso Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro IndonesiaENGLISH
Kopyor coconut is an exotic Indonesian germplasm with high economic value. The largest coconut-producing region is Central Java Province, specifically Pati Regency. The potential for development remains significant due to the abundant availability of land. Despite its high value, the supply of kopyor coconut trees is still limited, so this condition results in the selling prices remaining relatively high. This study was conducted to evaluate the financial feasibility of the kopyor coconut agribusiness using payback period, Net B/C, NPV, and IRR analysis. The study was conducted from December 2023 to March 2024, involving 96 respondents from three sub-districts. The study results indicate that early maturing (genjah) kopyor coconut farming in Pati Regency is feasible, with a payback period of 4 years and 7 months. The Gross B/C values of 1.25 and Net B/C 1.91 are more than one or less than the economic life. NPV is positive at Rp219,613,433 at an interest rate (discount rate) of 12.00% per year with an Internal rate of return (IRR) of 31.96% which is greater than the prevailing bank interest of 12% per year. The cultivation of early maturing kopyor coconut in Pati Regency is feasible, and its development has the potential to generate optimal and sustainable profits for farmers.
INDONESIA
Kelapa kopyor merupakan plasma nutfah eksotik asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Daerah penghasil terbanyak berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Pati. Potensi pengembangan masih terbuka lebar karena ketersediaan lahan cukup luas. Meskipun bernilai tinggi, ketersediaan tanaman kelapa kopyor masih terbatas sehingga harga jualnya relatif mahal. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan finansial agribisnis kelapa kopyor dengan analisis payback period, Net B/C, NPV, dan IRR. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2023 hingga Maret 2024 dengan jumlah sampel 96 dari tiga kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tani kelapa kopyor genjah di Kabupaten Pati layak diusahakan. Payback period tercapai dalam 4 tahun 7 bulan. Nilai Gross B/C 1,25 dan Net B/C 1,91, keduanya lebih besar dari satu. NPV positif sebesar Rp219.613.433 menandakan present value melebihi biaya yang dikeluarkan. Tingkat suku bunga (discount rate) 12% menghasilkan IRR 31,96%, lebih besar dari bunga bank 12% per tahun. Usahatani kelapa kopyor genjah di Kabupaten Pati layak dilaksanakan dan pengembangannya berpotensi memberikan keuntungan optimal dan berkelanjutan bagi petani.
Pages: 129-144Views: - Downloads: -Profitabilitas Usaha Peternakan Itik di Kelompok Tani Sato Iwen Kabupaten Pati
Seto Catur Nugroho Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Pati Indonesia , Agus Setiadi Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro Indonesia , Siswanto Imam Santoso Program Studi Magister Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro IndonesiaENGLISH
This research aims to analyze the profitability of laying duck farming, focusing on the Sato Iwen Farmers Group in Langgenharjo Village, Margoyoso District, Pati Regency. Data were collected through field observations and in-depth interviews using structured questionnaires. Profitability was analyzed using the Return on Investment (ROI) method, comparing net profit with total production costs. The results demonstrate that the profitability of laying duck farming at the respondent’s current scale reaches 59.2%. This high ROI is achieved on a production scale of 100 ducks integrated with the use of a hatchery machine, which creates significant added value by producing Day Old Ducks (DOD). The findings indicate that the business is highly profitable and feasible for further development. Although the farming is conducted semi-intensively, it maintains consistent productivity throughout the year. It is recommended that the government provides technical support and infrastructure to promote growth. Furthermore, farmers are encouraged to improve biosecurity and sanitation standards to minimize mortality rates and prevent environmental pollution.
INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profitabilitas usaha ternak itik petelur pada Kelompok Tani Ternak Sato Iwen di Desa Langgenharjo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis profitabilitas dilakukan dengan metode Return on Investment (ROI), yang membandingkan laba bersih dengan total biaya produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas usaha ternak itik pada skala responden mencapai 59,2%. Angka tersebut diperoleh dari hasil usaha dengan populasi 100 ekor itik yang didukung oleh penggunaan satu unit mesin tetas, yang memberikan nilai tambah melalui produksi Day Old Duck (DOD). Berdasarkan temuan tersebut, usaha ternak itik di lokasi penelitian dinilai sangat menguntungkan dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Meskipun pemeliharaan dilakukan secara semiintensif, usaha ini mampu menjaga produktivitas yang stabil. Disarankan agar pemerintah memberikan dukungan teknis dan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan usaha. Selain itu, peternak diharapkan meningkatkan standar biosekuriti dan sanitasi kandang guna meminimalkan angka kematian ternak serta mencegah pencemaran lingkungan.
Pages: 145-160Views: - Downloads: -Potensi dan Tantangan Pengembangan Wisata Pesisir di Desa Pesuloang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene
Muhammad Sulthan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sulawesi Barat Indonesia , Muhammad Sajidin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sulawesi Barat IndonesiaENGLISH
Pesuloang Village in Pamboang District, Majene Regency, possesses significant potential for development as a community -based coastal tourism area. The inherent beauty of its beaches, coral reefs, and rich marine biodiversity are key attractions that have yet to be optimally utilized. This research aims to identify the potential and challenges of coastal tourism development in Pesuloang Village and to analyze the strategic factors affecting its sustainability using the SWOT approach. While previous studies on coastal tourism in West Sulawesi often focus on physical and economic potential, the analysis of internal and external factors influencing the sustainability of tourism management remains limited. This study employs a qualitative descriptive method, utilizing in-depth interviews and field observations involving the village government, community leaders, local business actors, and tourists for data collection. The findings indicate that Pesuloang Village exhibits strengths in its natural beauty, good accessibility, and local economic potential, all of which can be enhanced through coastal tourism development. However, significant challenges persist, including low public awareness, the absence of a dedicated tourism management institution (Pokdarwis), and a lack of adequate supporting facilities.
INDONESIA
Desa Pesuloang, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata pesisir berbasis masyarakat. Keindahan pantai, terumbu karang, dan kekayaan biota laut menjadi daya tarik utama yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan tantangan pengembangan wisata pesisir di Desa Pesuloang, serta menganalisis faktor strategis yang memengaruhi keberlanjutannya melalui pendekatan SWOT. Kajian mengenai wisata pesisir di Sulawesi Barat selama ini lebih banyak menyoroti potensi fisik dan ekonomi, sementara analisis terhadap faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberlanjutan pengelolaan wisata masih terbatas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi lapangan terhadap pemerintah desa, tokoh masyarakat, pelaku usaha lokal, dan wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Pesuloang memiliki kekuatan berupa keindahan alam, aksesibilitas yang baik, serta potensi ekonomi lokal yang dapat ditingkatkan melalui pengembangan wisata pesisir. Namun, terdapat tantangan signifikan, seperti rendahnya kesadaran masyarakat, belum adanya lembaga pengelola wisata (Kelompok Sadar Wisata/Pokdarwis), dan minimnya fasilitas pendukung.
Pages: 161-176Views: - Downloads: -Sanguline Theme by Sangu Ilmu